Rabu, 26 Mei 2010

Hubungan Manusia dan Kegelisahan

Kegelisahan dalam diri manusia dapat timbul sewaktu – waktu tanpa atau dengan diharapkan kehadirannya. Banyak faktor yang yang mempengaruhi dan menimbulkan kegelisahan dalam diri manusia. Adanya rasa gelisah yang dirasakan dan dialami oleh manusia pada dasarnya disebabkan oleh manusianya itu sendiri karena semua manusia memiliki hati, perasaan dan pikiran.

Kegelisahan tidak lain adalah reaksi natural psikologis dan phisiologis akibat ketegangan saraf dan kondisi-kondisi kritis atau tidak menyenangkan. Pada masing-masing orang terdapat reaksi yang berbeda dengan yang lain, tergantung faktor-faktornya, dan itu wajar. Adapun bahwa manusia selalu merasa gelisah hingga membuatnya mengeluarkan keringat dingin, jantungnya berdetak sangat kencang, tekanan darahnya naik pada kondisi apa pun.


Banyak yang menilai kegelisahan ada macam-macam diantaranya adalah kegelisahan negatif dan positif yang di artikan sebagai berikut :


“Kegelisahan negatif” adalah kegelisahan yang berlebih-lebihan, atau yang melewati batas, yaitu kegelisahan yang berhenti pada titik merasakan kelemahan, di mana orang yang mengalaminya sama sekali tidak bisa melakukan perubahan positif atau langkah-langkah konkret untuk berubah atau mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu kegelisahan dalam ‘menanti-nanti’ sesuatu yang tidak jelas atau tidak ada. Tentu saja hal ini merupakan ancaman bagi eksistensi manusia sebagai kesatuan yang integral.

“Kegelisahan positif” merupakan dasar kehidupan atau sebagai kesadaran yang dapat menjadi spirit dalam memecahkan banyak permasalahan, atau sebagai tanda peringatan, kehati-hatian dan kewaspadaan terhadap bahaya-bahaya atau hal-hal yang datang secara tiba-tiba dan tak terduga. Ia juga merupakan kekuatan dalam menghadapi kondisi-kondisi baru dan dapat membantu dalam beradaptasi. Singkatnya, ia merupakan faktor penting yang dibutuhkan manusia. Sedangkan “kegelisahan negatif” jelas sangat membahayakan, seperti gula pada darah; ketika ketinggian kadarnya membahayakan kesehatan manusia.


Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi dari kecemasan. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari, kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekhawatiran, ketakutan. Masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang diinginkan tidak tercapai.


Dalam rangka untuk menciptakan sehat, bahagia dan harmonis realitas kita semua keinginan, kita perlu menciptakan keselarasan emosional. Proses ini dapat dibagi menjadi enam langkah dasar: auasao


1. Mengenali emosi kita.


2. Menerima mereka sebagaimana adanya.


3. Membebaskan mereka bila diperlukan.


4. Memahami bagaimana mereka diciptakan.


5. Mengubah negatif melalui pemahaman dan menciptakan lebih banyak positif.


6. Melampaui mereka.


Kegiatan-kegiatan ini akan membantu mengatur kembali pola-pola energi kita, membebaskan kita dari cengkeraman pikiran negatif.


Penangkal positif cemas dan khawatir bisa:


1. Iman kebijaksanaan dan keadilan ilahi; bahwa semua akan terjadi seperti yang diperlukan dan bermanfaat bagi proses pertumbuhan kami. Keyakinan ini memungkinkan kita untuk menyerah kepada kebijaksanaan alam semesta dan merasa aman bahkan ketika eksternal kita sedang ditantang oleh situasi sulit.
Ini tidak berarti bahwa kita tidak berusaha menciptakan realitas yang kita inginkan, tetapi hanya bahwa kita merasa yakin bahwa hasil dari usaha kita akan menjadi yang terbaik bagi pertumbuhan kita terlepas dari apakah mereka adalah apa yang kita inginkan.


2. Kepercayaan pada kemampuan kita untuk menghadapi kehidupan apa pun yang membawa kita. Mengapa kita harus yakin bahwa kita dapat menangani apa pun yang datang? Kami telah bertemu dengan begitu banyak tes dalam hidup, dan di sini kita hidup dan membaca ini. Kami telah selamat. Kita, sebagai roh, lebih besar daripada yang mungkin ada pengalaman manusia.


3. Menyadari bahwa kita layak cinta dan penerimaan seperti kami.
Banyak kecemasan kita berkaitan dengan keraguan kami tentang harga diri kita yang kita cenderung untuk mengukur dengan apa yang dipikirkan orang lain dan dengan hasil usaha kita. Menerima diri kita seperti kita menghilangkan banyak kecemasan.

4. Hidup di dalam dan menikmati saat ini.

Ketakutan kita, penyesalan, kecemasan dan khawatir jarang ada hubungannya dengan masa kini, tetapi dengan masa lalu dan masa depan. Tetapi tidak benar-benar ada. Masa lalu ada hanya untuk tingkat yang kita bawa dalam pikiran kita. Masa depan sama-sama ilusi.

Senin, 24 Mei 2010

Manusia dan Tanggung Jawab Dalam Kehidupan

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang di sengaja maupun tidak disengaja.Tanggung jawab juga berbuat berarti berbuat sebagai perwujudankesadaran akan kewajiban. Seseorang bertanggung jawab karena ada kesadaran ataupun keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggung jawab ituh karena manusia ituh hidup bermasyarakat dan hidupn dalam linkungan alam.Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lainnya dan terhadap alam sekitarnya, manusia menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan, anatara sesama manusia dan lingkungan.

Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.

Tanggung jawab bersifat kodrati artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab.Dengan demikian tanggung jawab dapat di liahat dari dua sisi,yaitu dari sipihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik.Dari sisin pihak lain apabia si pembuat tidak mau bertanggung jawab pihak lain yang akan memeulihkan baik dengan cara idividual atapun dengancara kemasyarakatan
Apabila di kaji tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus di pikul atau di penuhi sebagai akibat dari perbuatan yang berbuat,atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain atau sebagai pengabdian,pengorbanan pihak lain.

Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggung jawab itu karena manusia itu hidup berrnasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lain dan terhadap alam lingkungannya. Manusia menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia dan antara manusia dan lingkungan.


Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dan sisi si pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang hams memulihkan ke dalam keadaan baik. Dan sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara kemasyarakatan. Apabila dikaji, tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang hams dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari pebuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri, atau pihak lain. Dengan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu dipelihara dengan baik.

Jadi, betapa besarnya hubungan manusia dengan tanggung jawab, dimana setiap kehidupan manusia tidak terlepas dari tanggung jawab dalam kehidupannya.

Manusia dan Tanggung Jawab Dalam Kehidupan

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang di sengaja maupun tidak disengaja.Tanggung jawab juga berbuat berarti berbuat sebagai perwujudankesadaran akan kewajiban. Seseorang bertanggung jawab karena ada kesadaran ataupun keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggung jawab ituh karena manusia ituh hidup bermasyarakat dan hidupn dalam linkungan alam.Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lainnya dan terhadap alam sekitarnya, manusia menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan, anatara sesama manusia dan lingkungan.

Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.

Tanggung jawab bersifat kodrati artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab.Dengan demikian tanggung jawab dapat di liahat dari dua sisi,yaitu dari sipihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik.Dari sisin pihak lain apabia si pembuat tidak mau bertanggung jawab pihak lain yang akan memeulihkan baik dengan cara idividual atapun dengancara kemasyarakatan
Apabila di kaji tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus di pikul atau di penuhi sebagai akibat dari perbuatan yang berbuat,atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain atau sebagai pengabdian,pengorbanan pihak lain.

Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggung jawab itu karena manusia itu hidup berrnasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lain dan terhadap alam lingkungannya. Manusia menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia dan antara manusia dan lingkungan.


Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dan sisi si pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang hams memulihkan ke dalam keadaan baik. Dan sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara kemasyarakatan. Apabila dikaji, tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang hams dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari pebuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri, atau pihak lain. Dengan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu dipelihara dengan baik.

Jadi, betapa besarnya hubungan manusia dengan tanggung jawab, dimana setiap kehidupan manusia tidak terlepas dari tanggung jawab dalam kehidupannya.

Minggu, 16 Mei 2010

Pengalaman Spiritual

Spritual adalah kata yang sering saya dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Spiritual merupakan hubungan (relationship) atau keterkaitan (interconnectedness) abstrak yang dirasakan sensasinya oleh seorang manusia terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, termasuk di sini adalah semua benda mati dan hidup dan tidak terbatas hanya di Bumi saja. Manusia umumnya punya ketertarikan naluriah yang tinggi terhadap konsep spiritual.

Spiritual berbeda dengan religi; ketika seorang manusia merasakan adanya suatu kekuatan semesta yang abstrak yang menciptakan, membimbing, menjaga, memberikan penghargaan serta sanksi kepada dirinya serta dimana kekuatan ini dirasakan mempengaruhi seluruh alam semesta beserta isinya, hal ini IMHO merupakan suatu pemahaman spiritual. Jika manusia tersebut mendefinisikan kekuatan tersebut sebagai suatu Entity Yang Maha Tinggi serta Maha Berkuasa kemudian mengidentifikasikan-Nya sebagai Tuhan yang menunjukkan seperangkat pedoman jiwa/ hidup yang bersifat dogmatis, maka IMHO ini merupakan suatu pemahaman religi.

Bagi saya, spiritual terletak pada hubungan (relationship) yang terjadi spt disebutkan di atas. Apakah kita merasa benci kepada diri sendiri? Merasakan kecintaan yang sangat besar terhadap alam? Merasakan persaudaraan dengan sesama manusia? Memiliki bahkan mempraktekkan energi supranatural? Semua ini terletak pada pemahaman kognisi dan afeksi individual, dibantu oleh kinerja fisik.

Bagi sebagian orang, tanda-tanda mereka yg memiliki spiritual tinggi adalah rasa ketentraman dan kenyamanan yang sangat tinggi dalam berbagai situasi dan kondisi, hati selalu senang-easy going, tidak mudah kecewa, menyukai dan apresiatif terhadap segala sesuatu (bahkan udara yg dihirup), mampu melihat dan menyimpulkan sesuatu hal (tersembunyi), bahkan pengetahuan, yang biasanya luput dari orang awam-semacam insight baru dan masih banyak lagi "indikator"nya.
Saya pribadi berpendapat bahwa semua pengalaman dan pemahaman spiritual bersifat sangat individual dan pribadi.

Sekali lagi, IMHO, untuk mendapatkan pengalaman dan pemahaman spiritual, paling tidak dimulai dengan meningkatkan kinerja sensitivitas terhadap berbagai sensasi baik fisik maupun abstrak (misalnya penciuman, perasaan dan naluri) serta berpemikiran terbuka, seluas-luasnya meskipun pada suatu saat mampu berfokus tinggi pada satu titik.
Bagi saya pribadi, perlu ditambah lagi rasa penerimaan yang tinggi atau dengan singkatnya; meningkatkan kinerja biologis, afeksi dan kognisi.

Dengan segala kerendahan hati (mohon maaf sebelumnya), saya merasa bahwa pengalaman dan pemahaman spiritual yang pernah saya rasakan, seberapapun kecilnya, merupakan mata rantai yang memperkuat keyakinan religi saya (keimanan), bahkan meningkatkan kenikmatan ketika beribadah. Maka saya memiliki keyakinan bahwa ujung dari spiritualisme adalah religi.

Kalau pengalaman spritual saya adalah saya selalu tenang apa yang dikasih oleh Allah SWT. Nikmat yang dikasih oleh Allah kepada saya, saya nikmatin dan saya jaga dalam kehidupan saya.

Pengalaman ini saya alami dalam kehidupan sehari-hari.

Kebajikan

1. Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba yang suka menolong kawannya.

2. Barangsiapa menerima suatu kebajikan lalu berkata kepada pemberinya ucapan "Jazakallahu khairon" (semoga Allah membalas anda dengan kebaikan) maka sesungguhnya dia sudah berlebih-lebihan dalam berterima kasih. (HR. Tirmidzi dan An-Nasaa'i).

3. Janganlah kamu menjadi orang yang "ikut-ikutan" dengan mengatakan "Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan berbuat zalim". Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, "Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya". (HR. Tirmidzi).

4. Dari An-Nawwas bin Sam'an ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, "Kebajikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam jiwamu dan engkau tidak suka bila hal itu terlihat oleh manusia (orang lain)" (HR Muslim).

Jadi dari beberapa hadist di atas dapat disimpulkan:
Dalam definisi pertama Rasulullah saw menjelaskan, yang dimaksud al-birru (kebajikan) adalah husnul khuluq (berakhlak yang baik). Definisi ini sangat luas dan mendalam, sebab husnul khuluq itu mencakup:
1. Husnul khuluq terhadap Allah swt.
2. Husnul khuluq terhadap sesama manusia.
3. Husnul khuluq terhadap sesama makhluk (ciptaan) Allah swt.

Husnul khuluq (berakhlak baik) terhadap Allah swt, mencakup dua hal:
1.Menerima segala hukum syar'i yang datang dari Allah swt dengan ridha, penuh kepasrahan dan ketundukan serta tidak ada rasa sempit jiwa dan sesak dada, sebagaimana dijelaskan dalam QS An-Nisa': 65.

2.Menerima segala hukum kauni (qadha' dan qadar) Allah swt dengan keyakinan bahwa semua itu berdasar kepada keadilan Allah swt serta menyikapinya dengan penuh kesabaran.

Dengan bahasa lain, meminjam istilah yang digunakan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, husnul khuluq kepada Allah berarti:
1. Fi'lul ma'mur (menjalankan perintah Allah),
2. Tarkul mahzhur (meninggalkan larangan Allah), dan
3. Ash-Shabru 'alal maqdur (bersabar atas qadar atau takdir).

Husnul khuluq (berakhlak baik) terhadap sesama makhluk Allah, baik dari kalangan manusia maupun lainnya, mencakup segala bentuk kebajikan. Kebajikan ini bisa berupa kebajikan kepada kedua orang tua, biasa disebut birrul walidain, dan kebajikan mencakup juga segala bentuk pengaruh positif dari sebuah amal ibadah. Untuk hal ini, ada istilah haji mabrur, sebuah istilah yang menggambarkan segala bentuk kebajikan yang mesti ada pada seseorang seusai ia menunaikan ibadah haji, baik kebajikan yang berhubungan dengan Allah maupun sesama manusia.
Ada pula istilah bai'un mabrur (jual beli yang mabrur). Istilah ini digunakan untuk menggambarkan akad jual beli yang dilaksanakan sesuai syariat Allah dan tentunya membawa dampak yang positif bagi penjual dan pembelinya.
Orang-orang yang selalu berbuat al-birr disebut al-abrar dan Allah swt menjanjikan mereka berbagai kebajikan di akhirat yang merupakan balasan atas kebajikan yang selama ini dilaksanakannya di dunia. Perhatikan QS Al-Insan: 5, QS Al-Infithar: 13, QS Al-Muthaffifin: 18 dan 22.
Luasnya pengertian dan cakupan al-birr ini juga terdapat dalam Al-Qur'an, di antaranya QS Al-Baqarah: 177. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa al-birr mencakup:
1 .Iman kepada Allah swt, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan iman kepada hari akhir.
2. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, orang yang meminta serta menggunakan harta tersebut untuk memerdekakan budak.
3. Menegakkan shalat dan membayar zakat.
4. Memenuhi segala bentuk perjanjian.
5. Bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan.

Cita Cita

Di waktu kecil saya pernah ditanya oleh orang tua saya “Kalau besar mau jadi apa riz?”, dengan tanpa berfikir panjang saya langsung menjawab “Saya ingin jadi Tentara”. Kedua orang tua saya tersenyum lebar saat mendengar kata-kata yang saya ucapkan. Dalam hati mereka berdo’a mudah-mudahan keinginanku itu bisa tercapai, walaupun saya menjawab asal-asalan saja.

Pada suatu hari saya melewati markas TNI angkatan darat, ketika saya lagi melewati markas itu saya sedang melihat tentara TNI yang sedang latihan. Saya berhenti sejenak di tempat latihan TNI itu. Dan saat saya melihat TNI itu sedang berlatih saya terpikir sesaat dengan apa yang saya katakan dengan cita-cita saya yang ingin menjadi TNI. Saya berpikir bahwa menjadi TNI itu tidak segampang yang dipikirkan tetapi jika ingin menjadi TNI harus berusaha terlebih dahulu dengan susah payah dari penerimaan calon TNI, kesehatan, latihan yang berat dan fisik yang fit sekali. Lalu setelah melihat latihan TNI itu saya ketika sampai di rumah saya langsung berbicara dengan orang tuasaya bahwa "Bu saya gak jadi dach jadi TNI INDONESIA", lalu ibu saya menjawab "lah!!! mang napa riz" saya menjawab "tidak ah bu,,, Rizki mikir kalau jadi TNI tidak gampang karena semuanya harus sehat baik jasmani maupun rohani bu...." lalu ibu saya tersenyum saja mendengar jawaban saya tadi.

Lalu Ibu saya langsung bilang ke saya " Riz.... menentukan dan menggapai cita-cita itu tidak gampang makanya kamu harus lebih giat lagi menuntut ilmu apapun yang berguna, jadi jika kamu sudah mempunyai ilmu dan kamu menguasai suatu ilmu maka dari situ kamu sudah dapat menggapai cita-citamu dengan rahmat Allah SWT...., makanya kamu jangan malas untuk menuntut ilmu dan yang kamu yang harus tuntut ilmunya bukan hanya dunia saja tapi ilmu akhirat itu juga penting untuk kamu." saya menjawab "ya Bu.....".

Setelah saya mendengar nasehat serta masukan dari ibu saya tadi saya langsung berfikir bahwa cita-cita itu tidak gampang untuk dicapai jika tidak ada keninginan dan usaha untuk menggapai cita-cita kita.

Tanks mom.....